SINTANG, RS — Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Juni, mengingatkan bahwa keberlanjutan kerajinan lokal sangat bergantung pada kemampuan melakukan regenerasi pengrajin dan menarik minat generasi muda untuk melanjutkan tradisi budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Ia menilai bahwa tanpa upaya serius dan terstruktur, banyak jenis kerajinan tradisional di Sintang terancam hilang karena minimnya penerus.
Menurutnya, kondisi saat ini menunjukkan bahwa pengrajin tradisional di Sintang didominasi oleh kelompok usia lanjut. Sementara itu, minat generasi muda terhadap kerajinan masih tergolong rendah karena dianggap tidak memberikan prospek ekonomi yang menjanjikan.
Padahal, jika dikelola secara profesional dan mengikuti perkembangan teknologi pemasaran modern, kerajinan tradisional dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan dan mempunyai daya saing tinggi di pasar nasional maupun internasional.
“Jika kita tidak melibatkan generasi muda, banyak tradisi kerajinan akan punah. Karena itu, kita harus membuka mata bahwa kerajinan tradisional bukan pekerjaan sampingan, tetapi peluang usaha yang sangat menjanjikan,” tegasnya, Kamis (20/11).
Ia mendorong pemerintah daerah untuk memberikan perhatian lebih serius terhadap pelatihan keterampilan kerajinan di sekolah, sanggar seni, dan komunitas kreatif. Menurutnya, regenerasi tidak akan terjadi jika tidak ada ruang pembelajaran dan fasilitas yang mendukung.
Selain pelatihan teknis, Politisi dari Fraksi Gerindra menilai penting adanya edukasi mengenai manajemen usaha, peningkatan kualitas produksi, serta pemanfaatan pemasaran digital agar kerajinan lokal dapat masuk ke pasar yang lebih luas.
“Pelatihan saja tidak cukup. Pengrajin harus dibekali kemampuan branding, pemasaran online, dan akses pasar. Dengan begitu, kerajinan tidak hanya berhenti pada produksi, tetapi mampu bersaing sebagai produk ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Juni, juga menyoroti pentingnya membangun rasa bangga budaya bagi generasi muda. Ia mengatakan bahwa apresiasi budaya akan tumbuh ketika tradisi tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sumber identitas modern dan peluang ekonomi kreatif.
“Kerajinan bukan hanya benda, tetapi cerita dan sejarah yang harus kita jaga. Generasi muda harus menjadi penjaga sekaligus inovator,” jelasnya.
Ia berharap akan lahir lebih banyak komunitas kreatif dan wirausaha muda yang fokus pada pengembangan kerajinan lokal sehingga dapat menciptakan brand unggul yang dikenal luas. Dengan demikian, kerajinan Sintang memiliki masa depan yang kuat dan keberlanjutan jangka panjang.
“Kalau kita mau budaya tetap hidup, maka harus ada regenerasi. Mari bekerja sama menjaga warisan ini sekaligus menjadikannya peluang ekonomi masa depan,” tutupnya.











